Suka duka Pustakawan Sekolah


Motto perpustakaan sebagai jantung “institusi” suatu pendidikan baik itu universitas maupun sekola, saya rasa bukan menjadi moto yang bisa dibilang isapan jempol belaka. bayangkan jika di sekolah atau di perguruan tinggi tidak ada perpustakaan bisa di bayangkan betapa menderitanya mahasiswa atau siswa di sekolah atau universitas tersebut karena untuk memperoleh bahan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar nya harus membeli pustaka yang harganya tidak murah di jaman seperti sekarang.

Menjadi pustakawan adalah profesi yang membanggakan bisa dibilang membanggakan karena perpustakaan secara tidak langsung mendidik mahasiswa dengan meminjamkan beberapa bahan pustaka yang mendukung kegiatan belajar mengajar mereka.

Menjadi kebanggaan sendiri apabila kita membangun dari (0) sebuah perpustakaan dari sebelumnya perpustakaan tersebut dianggap sebagi sebuah gudang buku dikarena kan banyak buku belum tertata dan masih acak-acakan susunannya kemudian menjadi perpustakaan yang bukunya tertata susunan nya dan ditata sesuai subjeknya. pengalaman tersebut didapat penulis ketika menyusun suatu perpustakaan sekolah yang masih (0). kami menyusunnya pda tahun 2005 yang terdiri dari aphe, zulfa k, hani, budhi, yamin di suatu SD di sendangadi mlati sleman. walaupun, belum masih disebut “calon pustakawan” karena belum lulus pendidikan S1 ilmu perpustakaan.

Kemudian setelah selesai perpustakaannya eh ternyata “Head Office” atau pak kapsek meminta salah satu dari kami menjadi pustakawan sekolah tersebut karena temen2 tidak ada yang mau akhirnya aku ditunjuk oleh kepsek untuk menjadi pustakawannya. Pengalaman pertama sih asing terutama menghadapi murid2 SD yang nakal2 he3.

Walaupun mendapat gaji dibawah UMR liat juga tulisan sahabat q >> http://aphe.wordpress.com/2007/05/15/pustakawan-dalam-cerita/ tetapi aku ambil hikmahnya aja sebagai pengalaman hidup yang manis terutama dalam melayani siswa sd yang membutuhkan buku, baik itu buku paket atau buku cerita.

Dengan adanya perpustakaan di sekolah dasar diharap kan bisa setidaknya mendidik siswa mengetahui apa sich perpustakaan itu dan mendidik juga mekanisme peminjaman dan penelusuran informasi walaupun masih dengan sistem tradisional belum ada alat telusur inf seperti OPAC (online public catalouge)

Jayalah selalu perpustakaan semoga tidak tergerus oleh kemajuan jaman, tetapi perpustakaan masa depan dapat menjadi jembatan informasi. Untuk pustakawan kuasailah Ilmu teknologi informasi supaya tidak ketinggalan informasi sehingga pustakawan tidak menjadi objek tetapi menjadi subjek informasi dan menjadi intermedier informasi.

Posted on September 4, 2007, in Perpustakaan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: