Selamat Jalan Pejuang Perpustakaan Keliling (MABULIR)


Yogyakarta- Sabtu pagi, ba’da Subuh (6/10/2007) Dauzan Farouk, sosok yang dikenal dengan Perpustakaan Kelilingnya (MABULIR) meninggal di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Sosok sering mengaku bahwa inspirasi mendirikan Mabulir karena sejak kecil membantu ayahnya , H. Muhammad Bajuri, yang mengelola Taman Pustaka Muhammadiyah pada jaman sebelum Indonesia Merdeka.

Mbah Dauzan, begitu panggilannya, lahir di tahin 1925 di Kampung Kauman, Kota Yogyakarta. Saat perang kemerdekaan, semapt bergabung di pasukan Sub wehkreise (SWK) 101. Ia terlibat kontak fisik di dalam penyerbuan gudang senjata Jepang di Kota Baru 6 Juli 1945 dan Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Pada tahun 1950 , Mbah dauzan keluar dari ketentaraan dan melajutkan usaha batik orang tuanya, kemudian sempat berdagang emas dan menjadi distributor buku.Tahun 1989 Mbah mendapat uang pensiun veteran sebesar Rp 500.00 perbulan yang kemudian uang tersebut dihabiskan untuk membeli buku buku untuk mendirikan perpustakaan bergilir yang dinamakan Mabulir. Mbah dauzan kemudian berkeliling mengedarkan buku-bukunya secara gratis di sekitar Kota Yogyakarta. Mbah Dauzan meninggalkan delapan putra-putri. Salah satu putra beliau menjadi dokter spesialis anak yang pernah menjadi Direktur PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan saat ini menjadi dekan Fakultas Kedokteran Univ. Muhammadiyah Yogyakarta, dr. Erwin Santoso.

Mbah Dauzan yang menjadi inspirasi dunia literasi nasional ini tetap hidup dalam kesederhanaan. Selama hidupnya, beliau menerima beberapa penghargaan seperti Nugra Jasadarma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional tahun 2005 , Paramadina Award 2005 dan Lifetime Achievement Award dari Sabre Foundation, sebuah NGO di Massachusetts, Cambridge. Pada April 2007 di acara World Book Day Indonesia, Mbah Dauzan Farouk

mendapat gelar sebagai Pejoeang Literasi Indonesia.

Ba’da Asar ini setelah dishalatkan di Masjid Besar Kraton Yogyakarta, Jenazah dimakamkan di Makam Pejuang 45, Gamping Sleman Yogyakarta.

Berikut sebuah goresan pena Mbah Dauzan di situs http://

http://www.rumahdunia. net yang seakan mewakili kegelisahan beliau :

 

IN THE NAME OF ALLOH

Berhentilah mencaci maki kegelapan

lebih baik kau nyalakan secercah cahaya

bagi mereka yang kegelapan

Tebarkanlah iman dengan cinta

gubahlah dunia dengan prestasi

jadikan hidupmu penuh arti

setelah itu bolehlah bersiap untuk mati

kalau kelak datang hari perjumpaan

basahkan bibirmu dengan ucapan kalimat thoyibah

Laa ilaha illalloh

 

—-Sosoknya pernah dimuat di KOMPAS, Agustus 2004—

Dauzan Farook, Buku Gratis untuk Semua

SETIAP hari sejak bangun tidur, lelaki tua berkacamata tebal itu membaca buku, merapikan dan memperbaiki sampul sebagian buku-bukunya yang mulai rusak. Sore hari dia berkeliling Yogyakarta dengan bersepeda atau naik bus kota untuk mengedarkan aneka macam buku.

DIA mendatangi kelompok-kelompok bermain anak, siswa-siswa di sekolah, remaja masjid, pemuda karang taruna, kelompok pengajian, tukang becak yang tengah mangkal, bahkan para ibu pedagang di pasar-pasar untuk dipinjaminya buku secara gratis.

Lelaki itu adalah Mbah Dauzan Farook (79), warga Kampung Kauman, Yogyakarta-” Mbah” artinya kakek. Dialah pemilik Perpustakaan Mabulir, singkatan dari majalah dan buku bergilir, yaitu perpustakaan yang didirikannya, dikelolanya, dan didanainya sendiri.

Di rumahnya yang sederhana di sebuah gang sempit di Kampung Kauman, Kota Yogyakarta, buku-buku dan majalah bertebaran. Di ruang tamunya hanya ada dua buah sofa butut. Selebihnya adalah rak berisi buku-buku dan majalah. Kamarnya juga penuh dengan buku, bertumpuk sampai hampir menyentuh langit-langit.

“Buku adalah kekayaan yang bisa mencerahkan manusia. Para pendiri bangsa kita dulu adalah orang-orang yang sangat kuat dalam membaca sehingga semangat dan wawasan kebangsaan mereka sangat tinggi,” kata lelaki yang tidak menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sastra Timur Universitas Gadjah Mada ini.

Mbah Dauzan selalu membaca semua buku sebelum dipinjamkan kepada para pelanggan, walaupun untuk membacanya dia harus menggunakan kaca pembesar. Ia ingin memberikan bacaan yang terbaik. Semua orang dari berbagai latar belakang dilayaninya, tanpa membedakan agama, pendidikan, atau kedudukannya.

Beberapa kali ia keluar masuk Kantor Wali Kota Yogya Herry Zudianto untuk meminjamkan buku-buku. Mantan calon presiden Amien Rais dan sejumlah tokoh lain di Yogyakarta juga pernah meminjam buku kepadanya.MBAH Dauzan lahir tahun 1925 di Kampung Kauman, Kota Yogya, tempat kelahiran organisasi massa Muhammadiyah. Kecintaannya terhadap buku bermula sejak kecil ketika dia sering membantu bapaknya, H Muhammad Bajuri, yang menjadi pengelola Taman Pustaka Muhammadiyah atau Perpustakaan Muhammadiyah.

Saat perang kemerdekaan, Dauzan remaja bergabung dengan para gerilyawan dalam pasukan Sub Wehrkreise (SWK) 101. Ia terlibat kontak fisik di dalam penyerbuan gudang senjata Jepang di Kota Baru 6 Juli 1945 dan Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Pada tahun 1950 dia keluar dari ketentaraan dengan pangkat terakhir letnan dua. Dia melanjutkan usaha batik orangtuanya, tetapi berhenti pada tahun 1975 saat bisnis batik di Yogyakarta hancur. Ia lalu berdagang emas dan jadi distributor buku.

Tahun 1989 Mbah Dauzan mendapat uang pensiun veteran sebesar Rp 500.000 per bulan, yang justru membebaninya. “Saya seperti mendapat amanah besar untuk memakai uang itu dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan negara ini,” katanya.

Dia menghabiskan uang itu untuk membeli buku-buku di Shopping Centre, pusat penjualan buku bekas Yogyakarta. Sejak itulah Mbah Dauzan mulai berkeliling mengedarkan buku-bukunya secara gratis.

Ia meminjamkannya dengan sistem bergilir, yang dinamakannya multylevel reading. “Mengelola perpustakaan keliling adalah bisnis dengan keuntungan abstrak. Landasannya kepercayaan sehingga aturannya tidak perlu birokratis. Dagangan Tuhan. Tidak perlu ada KTP atau apa. Sesama manusia saudara, harus bisa dipercaya,” ujarnya.

Memang ada bukunya yang hilang, tetapi ia tidak kapok. “Risiko mati saja berani, kok cuma kehilangan buku,” katanya. Mbah Dauzan menyiasatinya dengan membentuk kelompok dan tidak lagi melayani pinjaman secara perseorangan, kecuali kepada orang-orang yang sangat dikenalnya. Koordinator kelompok bacaan itulah yang menjadi rekanan Mbah Dauzan untuk mengontrol peredaran buku-buku tersebut.

Untuk menyegarkan koleksinya, buku-buku yang sudah jenuh diberikan kepada anak-anak desa melalui kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa dan kegiatan sosial yang lain.

“Kalau kita memelihara ikan di dalam akuarium, bukankah airnya harus rutin diganti? Pembaca harus diberi buku-buku baru agar tidak bosan,” ujarnya.

Dengan prinsip itu, koleksi buku di Perpustakaan Mabulir bisa mengikuti perkembangan zaman. Buku-buku baru tentang komputer, ekonomi modern, kumpulan cerpen, dan novel-novel baru yang populer berbaur dengan buku-buku kuno era Pujangga Baru serta buku-buku sejarah dengan bahasa daerah, bahasa Indonesia, maupun Belanda.

Kini jumlah koleksi Perpustakaan Mabulir sekitar 5.000 buku dan 4.000 majalah. Jumlah kelompok membaca yang dibinanya mencapai 100 kelompok, dengan masing-masing anggota kelompok 4-20 orang. Mabulir sudah punya perwakilan di lima kota, yaitu Jakarta, Solo, Brebes, Purworejo, dan Magelang. Semua pengelola perwakilan itu sebelumnya adalah para pelanggannya. Sebulan atau dua bulan sekali mereka menukarkan buku kepada Mbah Dauzan. “Saya berharap, suatu saat perwakilan itu mandiri,” katanya.

Perpustakaan Mabulir terus berkembang. Bahkan, pengelola Perpustakaan Daerah DIY menitipkan sekitar 500 buku kepada Dauzan untuk dikelola. Sejumlah sukarelawan yang sebagian besar remaja silih berganti datang ke rumah Mbah Dauzan dan membantunya mengelola perpustakaan. Di samping itu, dia juga menggaji empat karyawan tetap.

Namun, uang pensiunnya tidak lagi mencukupi sehingga ia mulai menggerogoti sisa tabungan hasil berdagang. “Suatu saat tabungan itu mungkin akan habis. Tetapi, tak apalah, toh saya juga sudah tua. Nyawa saya juga sudah mau habis,” ungkapnya.

Lima anaknya tinggal di Jakarta dan Solo. Tiga lainnya di Yogya, tetapi memilih tinggal bersama keluarga mereka. Empat tahun lalu istri Mbah Dauzan meninggal sehingga dia tinggal sendirian.Mbah Dauzan tercenung ketika ditanya siapa yang bakal meneruskan

perpustakaan itu, sedang tak satu pun dari delapan anaknya tertarik.”Saya hanya bisa menyebarkan virus untuk mengangkat minat baca masyarakat dengan sistem perpustakaan keliling. Entah siapa yang meneruskan, bisa siapa saja…,” katanya. (AHMAD ARIF)

Di cuplik dari forum ICS

Posted on Oktober 18, 2007, in Perpustakaan. Bookmark the permalink. 8 Komentar.

  1. perpusnya keliatannya sudah tidak ada yang meneruskan mb, saya dapat info dari temen penggiat TBM

  2. Assalamualaikum. Apakah saya bisa mendapatlan alamat rumah beliau? Minimal ahli waris yg bisa saya wawancarai mngenai perjuangan beliau. Kalau ada yang punya tolong blas komentar ini ya, atau sms ke 089696933179. Mohon bantuannya. 🙂

  3. Suatu subuh 2008, saat sepulang dari PKL mahasiswa (FKIP Unlam prodi Biologi), aku menghidupkan Televisi, dan saat itu sedang ada acara pengenalan tokoh. ya…dauzan farouk..begitu tersentuh hati ini saat melihat perjuangan ikhlas dan cara berpikir seorang “lelaki Tua” dan “kuno” tetapi daya pikirnya sangat jauh dari diri ini yang saat itu notabenenya adalah seorang S1. Didalam hati ini kemudian bertekad untuk mengabadikan jiwa keteladanan beliau kedalam keluargaku, dan aku menamakan anakku yang pertama dengan nama beliau ” muhammad Douzhan Farouk “

  4. Luar biasa mBah Dauzan. saya yakin Tuhan sayang menyanyangi beliau.

    Selamat jalan mbah Dauzan, semoga saya mampu meneruskan perjuangnmu, saat ini baru mampu melayani siswa di perpustakaan sekolah.

    Selamat jalan Pahlawanku.

  5. innalillahi wa inna ilahi rojiun,selamat jalan wahai pejuang minat baca,semoga semangat dan dedikasinya menjadi inspirasi dan teladan bagi kita.maaf saya baru tahu kalo beliau meninggal. semoga amal beliau menjadi amal yang diridhoi ALLAH SWT

  6. Innalillahi wainna ilaihi rooji’un. baru saat ini 6 Nopember 2007 saya baca berita mbah Dauzan Farook telah tiada. Saya kenal mbah Dauzan sejak baca kompas tahun 2004, teringat terus dalam benak saya. Saat membaca itulah terbesit dalam benak saya bawa kelak suatu saat saya punya anak akan saya beri nama “Dauzan”. Alhamdulillah 8 Agustus 2005 anak pertama lahir laki-laki, makla tak banyak berfikir langsung saya beri nama “DAUZAN ROFIQ”, dengan harapan kelak anak saya akan senantiasa memberikan kemanfaatan bagi orang lain sebagaimana mbah Dauzan Farook. Selamat jalan Mbah.

  7. Dunia kepustakawanan Indonesia membutuhkan sosok-sosok seperti Mbah Dauzan; pun berhutang banyak pada beliau. Semoga akan muncul Mbah Dauzan-Mbah Dauzan lain utk membuat semakin semarak warna kepustakawanan Indonesia. Selamat jalan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: